Mari Dukung 10 April sebagai Hari Gunung Api Internasional

DSC03555 copy
Panorama kawah Gunung Tambora di pagi hari.

Hari ini, 10 April, 203 tahun silam Gunung Tambora murka. Sang ancala meletus dengan dahsyat menghasilkan aliran piroklastik masif hingga gelombang tsunami yang langsung membunuh puluhan ribu penduduk setempat.

Erupsi telah menyapu tiga kerajaan yang ada di kaki-kaki gunung, yaitu Tambora, Pekat, dan Sanggar. Jumlah korban tewas, seperti diestimasi pakar sejarah Bernice de Joeng Boers, dalam tulisannya Mount Tambora in 1815: A Volcanic Eruption in Indonesia and its Aftermath kurang lebih 117 ribu jiwa.

Sebagian tewas akibat dampak tidak langsung dari bencana itu berupa diare dan kelaparan. Panen gagal, air terpolusi, ternak dan hewan binasa. Tidak jarang, anak-anak dijual untuk ditukar dengan segantang beras.

Setahun pascaerupsi, iklim dunia berubah. Di wilayah Eropa dan Amerika, sinar matahari tidak lagi benderang. Walau saat itu belum diketahui sebabnya, abu dan gas yang ditembakkan Tambora ke stratosfer membuat sinar matahari terhalang. Musim panas yang dingin maupun musim dingin berkepanjangan melanda .The Year Without a Summer, atau Eighteen Hundred and Froze to Dead, demikian 1816 kini dikenang.

Letusan Tambora merupakan letusan paling mematikan dalam sejarah manusia modern. Gunung yang awalnya setinggi sekitar 4.200 meter menciut menjadi sekitar 2.800 meter dengan kawah raksasa menganga.

DSC_2612copy
Pendaki berjalan di kawah raksasa bekas letusan Gunung Tambora pada 1815 silam.

Berlatar belakang dahsyatnya letusan Tambora tersebut, pria berkebangsaan Prancis Tanguy De Saint-Cyr dan Jeannie Curtis, penulis sekaligus pengajar asal Selandia Baru membuat petisi global yang ditujukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations) untuk mencanangkan tanggal meletusnya Tambora sebagai Hari Gunung Api Internasional.

Dengan dicanangkannya 10 April menjadi Hari Gunung Api Internasional, diharapkan seluruh penduduk belahan bumi tersadar bahwa kita tidak bisa terlepas dari gunung berapi di seluruh aspek kehidupan.

Peringatan letusan 10 April juga diharapkan mampu membuat orang-orang di seluruh dunia untuk merenungkan:

  • Layanan kemanusian untuk para korban letusan gunung berapi;
  • Hancurnya pemukiman penduduk, aneka tumbuhan, dan hewan akibat letusan;
  • Efek iklim dalam jangka panjang karena emisi vulkanik dan erupsi;
  • Pelatihan mitigasi bencana untuk mengurangi korban;
  • Sumber daya alam potensial yang dihasilkan gunung berapi seperti panas bumi, gas, dan air;
  • Dukungan pemerintah untuk pemantauan gunung berapi hingga penggunaan teknologi terbaru;
  • Penelitian dan pemahaman yang lebih baik tentang sistem dan perilaku gunung berapi;
  • Kesadaran akan dampak sekunder dari letusan gunung berapi seperti gelombang tsunami, aliran piroklastik, dan jalur aliran lahar dingin;
  • Pembentukan daratan dan pulau baru akibat letusan;
  • Kesediaan mineral untuk pertanian, konstruksi, pertambangan, dan industri;
  • Pemetaan taman nasional hingga wilayah konservasi, cagar alam baik untuk flora dan fauna;
  • Pemanfaatan mineral untuk obat-obatan, tonik, terapi, dan spa;
  • Inspirasi untuk aneka kesenian seperti lirik lagu, puisi, atau lukisan;
  • Pemanfaatan kawasan untuk ekowisata.

Dibutuhkan sedikitnya 70.000 tanda tangan warga dunia untuk membawa petisi ke PBB. Mari dukung petisinya sekarang di http://bit.ly/menangkantambora

Hari Gunung Api-01


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s