Carstensz Pyramid nan Sulit

 

DSC_0053 copy
Puncak bergerigi Carstensz Pyramid terlihat dari Bali Dump, area PT Freeport Indonesia.

“Bray, kalau gerakan lo masih selambat ini, mending elo turun sekarang! Daripada kita semua gagal,” tegas Rahim Asyik Budi Santoso, guide yang mengantar saya menuju puncak tertinggi Indonesia, Carstensz Pyramid, Papua, Agustus lalu.

Perintah yang menghentak, saya pun reflek mengelak. Dengan memelas saya memohon ke pria yang biasa disapa Kang Bohim itu bahwa akan bergerak lebih cepat demi mendapat ‘lampu hijau’ meneruskan perjalanan menuju puncak impian. Bagaimana bisa untuk mundur, pendakian ke Carstensz bagi saya bukan sekadar menuntaskan penugasan, tapi juga menggapai impian.

Yellow Valley

Titik awal summit attack–istilah yang lazim digunakan ketika hari-H menuju puncak– ke Carstensz Pyramid dimulai dari Yellow Valley, berupa lembah yang berada tepat di bawah dinding tebing Carstensz dan berada di ketinggian sekitar 4.300 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Di sisi timurnya terdapat danau yang berasal dari air hujan maupun gletser salju yang terus mencair. Sedangkan di sisi barat terdapat padang rumput yang berwarna agak kekuning-kuningan. Mungkin karena padang rumput inilah lokasi ini dinamai Yellow Valley atau Lembah Kuning.

 

Ada berbagai pilihan jalur yang lazim digunakan untuk menuju basecamp pendakian di Yellow Valley. Pertama, pendaki bisa melalui desa adat yang berada di Sugapa, Kabupaten Intan Jaya. Sugapa bisa dicapai melalui penerbangan perintis dari Timika ataupun Nabire. Tentunya tidak setiap hari ada jadwal penerbangan. Selain itu, faktor cuaca juga menjadi penentu ada tidaknya penerbangan.

Dari Sugapa bisa melalui desa Ugimba ataupun Soanggama. Setelah itu perjalanan naik turun gunung membelah hutan rimba Papua. Dari Sugapa jarak menuju Yellow Valley berjarak sedikitnya sekitar 60 km atau sekitar 5-6 hari trekking. Itu baru waktu berangkat, tinggal kalikan 2 jika pulang juga mau lewat sini. Cukup jauh dan berat memang.

Baca juga:

• Sugapa, Gerbang Sesungguhnya Menuju Carstensz

• Potong Jari Tangan Penanda Kesedihan

• Batu Emas dan Kepala Suku Beristri 22

Cara lainnya yakni menyewa helikopter dari Timika atau Nabire dan langsung mendarat di Yellow Valley. Tentunya mesti merogoh kocek lebih dalam meski praktis dan efisien di waktu.

Lalu yang terakhir melewati jalur tambang yang berada wilayah PT Freeport Indonesia (PTFI). Namun, tidak semua orang bisa memiliki akses untuk melintasi wilayah ini. Beruntung, saya yang bergabung dengan Tim Ekspedisi Polwan yang bekerja sama dengan PTFI mendapat izin untuk melintas di wilayah tambang.

Dari Timika yang berada di tepi pantai, tidak sampai sehari bisa langsung mencapai Bali Dump di wilayah PTFI yang berketinggian lebih dari 4.000 mdpl! Sangat signifikan memotong waktu dan biaya.

Namun, jalur PTFI ataupun melalui helikopter justru jauh lebih berbahaya bagi tubuh dibanding lewat desa adat. Ya, Accute Mountain Sickness atau AMS menghantui pendaki yang memilih 2 jalur ini.

Gejala AMS yang paling ringan dimulai dari kepala pusing dan hilang akan nafsu makan. Gejala lanjutannya, penderita mulai muntah-muntah. Bahkan, pada tingkat tertinggi jika tidak ditangani dengan baik penderita bisa pingsan hingga kehilangan nyawa.

AMS disebabkan karena ketidakmampuan tubuh beradaptasi dengan baik terhadap ketinggian, biasanya di atas 4.000 mdpl. Oksigen yang tipis dan tekanan udara yang tinggi menjadi penyebabnya.

Tak hanya pusing-pusing, saya pun mengalami muntah-muntah karena AMS. Saya pun terpaksa dievakuasi ke lokasi lebih rendah di Tembagapura. Evakuasi secepatnya ke lokasi yang lebih rendah merupakan penanganan terbaik bagi yang mengalami AMS.

Pesimistis menghantui bahwa saya akan kembali gagal menggapai Carstensz seperti ekspedisi dua tahun silam, meski telah melihatnya langsung secara jelas dari Basecamp utama di Bali Dump.

DCIM100GOPROGOPR0187.JPG
Saya saat dievakuasi ke camp medis demi mendapat perawatan karena mengalami Accute Mountain Sickness (AMS). Foto: Dokumentasi Tim Medis Ekspedisi Polwan

Summit Attack

Suara gaduh terdengar dari tiupan angin yang menampar-nampar lapisan luar tenda. Saya pun terbangun. Jarum jam menunjukkan pukul 03.00 dinihari.

Jumat, 18 Agustus 2017, Saya, Wildan Indrawan dari Metro TV, serta Kang Bohim berada dalam satu regu yang akan menuju puncak Carstensz Pyramid dalam rangka Ekspedisi Polwan 2017. Demi keselamatan dan mempercepat pergerakan, pendakian mesti dibuat menjadi beberapa kloter.

Sebelum kami, ada juga beberapa regu yang telah berhasil menginjakkan kaki di titik tertinggi lempeng Benua Australia-Oceania tersebut. Masih ada juga regu lain yang akan menuju puncak setelah tim kami.

Sembari merebus air dan menyiapkan perbekalan, kami pun memasang harness dan peralatan panjat tebing di tubuh masing-masing. Sejam kemudian kami mulai bergerak meninggalkan tenda tempat kita bermalam di Yellow Valley menuju titik awal panjat tebing.

Langit cerah dan berbintang ketika kami meninggalkan Yellow Valley. “Doa saya dan orang-orang yang mendukung perjalanan saya ini ternyata dikabulkan-Mu, Tuhan,” gumam saya dalam hati.

DSC04045 copy
Perjalanan menuju puncak dimulai saat matahari belum muncul. Jalur pendakian berupa memanjat tebing dengan bantuan alat dan tali-temali. Foto: Wildan Indrawan

Dari sini, jalur pendakian berupa tebing dan sepenuhnya bergantung pada artificial climbing atau alat memanjat tebing. Elevasi yang mesti dilahap untuk mencapai Carstensz Pyramid yang memiliki ketinggian 4.884 mdpl sekitar 500an meter lagi. Fisik yang prima dan keahlian memanjat tebing menjadi syarat mutlak.

Teras Besar, berupa dataran yang agak luas yang memungkinkan bagi tim untuk beristirahat kami jadikan target awal. Meskipun agak datar, pengaman ganda mesti tetap terpasang, karena posisi masih berada di tebing. “Kita harus sampai di Teras Besar sebelum jam 10.00. Lewat dari itu, lupakan puncak!” tegas Kang Bohim.

Tak mudah untuk mencapai Teras Besar. Suhu di arloji sedikit di atas titik beku, 4° celcius. Kerongkongan rasanya cepat sekali kering dan pahit. Bebatuan tajam dinding Carstensz merobek sepatu, celana, dan jaket yang saya gunakan.

Sebelum Teras Besar, ada celah kecil yang biasa disebut Teras Kecil. Kemiringannya sekitar 30°, sehingga memungkinkan kami untuk istirahat sejenak dan salat Subuh.

Setelah itu jalur kembali berupa tebing dengan bersudut 60° hingga 90°. Beberapa kali tenaga mesti terkuras ekstra ketika menjumpai tebing yang menggantung tanpa pijakan untuk kaki (overhang). Kang Bohim makin sering memarahi dan memaki saya serta Wildan agar bergerak cepat.

Kami pun berhasil tiba di Teras Besar pukul 08.00, kemudian beristirahat sejenak sembari menikmati roti bakar yang telah dipersiapkan dari bawah.

Selepas Teras Besar, tebing 90° setinggi sekitar 20 meter menghadang kami. Menurut saya, ini salah satu poin tersulit sebelum mencapai summit ridge atau punggungan gunung menuju puncak. Lokasi ini dinamai Kandang Babi.

Jurnalis yang juga petualang legendaris Indonesia, Norman Edwin, dalam tulisannya di Majalah Mutiara edisi 13 Mei 1981 pernah bermalam di sini ketika Ekspedisi Mapala UI. “Tenda yang kami bawa kerangkanya patah dua hari lalu, sekarang tambah tidak berbentuk lantaran berlumpur. Tempat itu kami namakan Kandang Babi, kotornya memang pantas untuk sebutan itu,” tulis Norman.

Saya mesti berhenti beberapa kali di tebing ini. Saya memilih tali yang baru untuk menjamah tebing. Tali statis baru ini merupakan salah satu karya tim Ekspedisi Polwan 2017 yang mengganti tali-tali lama yang kondisinya sangat mengkhawatirkan. Tali kernmantel yang diganti sepanjang 1.200 meter. Tiga pendaki dari Bumi Pasundan, Noer Hoeda, Agus Saban, dan Martin Rimbawan bergotong-royong di bawah cuaca ekstrem dan sunyinya gunung selama 5 hari untuk memasang tali baru dari awal mula pemanjatan di Yellow Valley hingga ke puncak. Tabik!

Jadi, untuk mencapai Carstensz Pyramid, ada 2 dan 3 pilihan tali yang siap dipasang dengan peralatan memanjat tebing yang telah menempel di badan. Tali yang berwarna oranye itulah buah karya tim Ekspedisi Polwan.

DCIM100GOPROG0320627.JPG
Tebing setelah Teras Besar menuju Summit Ridge. Tampak tali kernmantel berwarna oranye yang merupakan tali baru sepanjang 1.200 meter buah karya Ekspedisi Polwan 2017.

Dengan bersusah payah, akhirnya kami pun mencapai Summit Ridge. Menurut Kang Bohim yang dalam sepekan ini sudah menginjak Carstensz Pyramid sebanyak tiga kali, dari sini sudah tidak terlalu banyak tebing vertikal. Saya pun sedikit bernapas lega.

Beberapa meter berjalan, rintangan kembali menghadang. Jurang selebar 10 meter dengan kedalaman sekitar 200 meter menghadang!

Ada 2 cara menyeberangi jurang tersebut. Yang pertama menggunakan teknik tyrolean traverse, atau bergelayutan di tali dan mendorong tubuh dengan kekuatan tangan. Tali temali untuk menggunakan teknik ini telah tersedia, sejak dipasang oleh pendaki terkenal asal Selandia Baru, Rob Hall, pada era 90an.

Bukan perkara mudah untuk menggunakan teknik ini. Selain membutuhkan kekuatan tangan, teknik ini harus dilakukan di ketinggian lebih dari 4.000 meter, di mana kandungan oksigen yang amat tipis. Apalagi jika cuaca buruk melanda, bergelayutan dengan angin kencang nan dingin amatlah berat.

Cara kedua relatif lebih mudah. Sejak 2015, tiga buah sling baja juga telah terpasang untuk mempermudah penyeberangan. Jadi tak perlu susah-susah menggunakan teknik tyrolean, pendaki cukup memasang pengaman di sling baja bagian kanan dan kiri lengan badan, lalu berjalan di atas sling baja lainnya yang berada di bawah bak pemain sirkus. Burma Bridge nama jembatan ini, karya pemanjat tebing kawakan, Tedi Ixdiana. Walau pengaman ganda telah terpasang, jantung tetap saja berdegup kencang ketika melintasi jembatan ini.

Seorang senior di Emergency Rescue Group PT Freeport Indonesia mengapresiasi dengan adanya Burma Bridge ini, karena mempermudah laju pendaki menyeberangi jurang. Namun, ia mengkhawatirkan penggunaan bahan jembatan dari sling baja yang dapat memancing petir. Terlebih lagi jembatan berada di titik yang amat rawan cuaca buruk.

Selepas Burma Bridge, kami terus menyusuri punggungan menuju puncak. Pengaman di tubuh tetap terpasang dengan tali temali yang telah tersedia. Tak disangka, kami mesti menyeberangi 2 jurang lagi. Meski tidak selebar jurang di bawah Burma Bridge, tetap saja memacu adrenalin.

Hambatan bertambah seiring tenaga yang makin melemah. Kali ini bukan dari faktor eksternal, tapi dari dalam diri sendiri. Perut saya melilit karena menahan buang air besar!

Memang sebelum Burma Bridge tadi saya telah menahan diri untuk tidak buang air besar. Bagaimana mungkin untuk membuang air besar di atas punggungan gunung selebar tak lebih 2 meter dan harness terpasang di celana.

Beban makin bertambah karena kepala saya kembali pusing. Mirip pusing karena AMS. Tapi kali ini saya berada di antara 2 jurang menganga dan butuh tenaga ekstra untuk turun ke tempat datar di Yellow Valley.

Obat terbaik karena AMS adalah turun segera ke tempat lebih rendah. Tetapi, saya berada hanya tinggal beberapa meter elevasi saja dari Carstensz Pyramid, sang impian sejak dahulu. Saya pun mengabaikan teriakan Wildan dan Kang Bohim di depan yang meminta saya terus bergerak. Saya berdiam, fokus mengingat mengenai obat jikalau kembali terkena AMS, diamox.

Ah, benar saja, saya berhasil mengingat dan menemukan diamox di kantung jaket bagian dalam saya. Masih ada 3 kapsul, dan saya langsung meminum 2 kapsul dalam jeda 10 menit. Saya pun kembali optimistis bisa menggapai Carstensz, walau pusing masih meradang.

Jalur kembali dihadapkan pada tebing vertikal sekitar 75°. Meski terseok-seok, saya tetap mencoba melahap rintangan. Di kejauhan saya melihat Wildan dan Kang Bohim berpelukan, lalu Wildan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Kang Bohim yang menunggu saya.

Akhirnya saya mencapai tempat Kang Bohim berdiri dan ia berkata, bahwa saya tinggal menanjak 3 meter saja dan itulah plakat titik tertinggi.

Tangisan pun pecah. Saya memeluk Kang Bohim erat-erat yang dengan sabarnya mengantar saya menuju impian. Tanpa teriakan ataupun caci makinya tak mungkin saya bisa sampai di titik ini. Entah, mengapa kali ini air mata begitu mudahnya mengalir.

Carstensz Pyramid berupa tonjolan batu karang yang sempit, tak lebih dari 5 orang bisa berdiri bersamaan di situ. Akhirnya saya berhasil menjamahnya. Saya pun mengangguk setuju dengan berbagai pendapat bahwa kau salah satu gunung dengan medan tersulit.

 

This slideshow requires JavaScript.


7 thoughts on “Carstensz Pyramid nan Sulit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s