Menuju Puncak Tiada Akhir

a-utama-ok-copy
Menyusuri vegetasi dan bebatuan di kedalaman hutan tropis Gunung Beriun.
a-foto-04-copy
Aktivitas pagi hari di dapur basecamp.
a-foto-01-copy
Berdiskusi soal jalur yang akan dilewati.
a-foto-05-copy
Menyeberangi Sungai Marak.
a-foto-02-copy
Memantau lokasi dengan Global Positioning System.
a-foto-03-copy
Pendaki senior Indonesia, Djukardi ‘Bongkeng’ Adriana, turut membuka jalur.
a-foto-06-copy
Mengucap syukur saat mencapai puncak.

‘Ambo-Ambo Si Tutunambo
Lebih Ambo Dulun Beriun
Ambo-Ambo Si Dulun Nyere
Lebih Ambo Dulun Beriun’.

KUTIPAN lirik berbahasa Dayak yang dituliskan Firmansyah, Ketua Pertahanan Adat Dayak Basap, itu menggambarkan keperkasaan Gunung Beriun. Gunung itu merupakan yang tertinggi jika dibandingkan dengan gunung lainnya di Kutai Timur, Kalimantan Timur, seperti Gunung Tutunambo dan Gunung Nyere.

Menjadi satu-satunya gunung berkontur tanah yang dikelilingi gunung batu karst Sangkulirang-Mangkalihat tak membuat Beriun sering dijamah orang. Bahkan, hingga kini belum tercatat ada ekspedisi pendakian ke puncaknya dan pendataan mengenai kompleksitas isi hutannya.

Pada 1-20 September lalu, sebagian ‘kegelapan’ Beriun telah dapat disingkap tim Eiger Black Borneo Expedition 2016. Bak Amazon di Amerika Selatan, hutannya tak kalah seksi dengan pepohonan berusia ratusan tahun dan beragam spesies fauna.

Menurut kesaksian suku Dayak Basap, Beriun memiliki enam puncak, yaitu Puncak Beriun Raya, Puncak Sentiwong, Puncak Borean Gona, Puncak Tara Tebu, Puncak Koloi, dan Puncak Kejantri.

Ketika pendaki berdiri di salah satu puncak, akan terlihat puncak lainnya yang seakan tidak ada habisnya sehingga lahirlah kata iun, yang dalam bahasa Dayak berarti di sana.

Istilah ini merujuk kisah orang Dayak dahulu ketika berada di Puncak Gunung Beriun. Tiap puncak itu dipisahkan jurang dan lembah yang dalam. Puncak Beriun Raya ialah puncak utama.

Karena itu, pada jurang-jurang dan lembah-lembah itulah, tim ekspedisi berjuang menuju puncak. Perjalanan itu benar-benar menguji mental dan juga kemampuan navigasi karena data-data dari peta Badan Informasi Geospasial dan peta Google Earth kerap tidak bisa diandalkan. Ujian makin berat dengan anomali cuaca.

Namun, Beriun tidak selamanya angkuh. Hari demi hari semakin membawa tim mendekati puncak.

Pada hari keenam di hutan, tim ekspedisi pun berhasil menginjak Beriun Raya. Sujud syukur dan tangis haru pun tertumpah di gunung berketinggian 1.261 mdpl itu. Terima kasih Beriun! (M-3)

Artikel ini juga dimuat pada rubrik Foto Media Indonesia edisi Minggu, 13 November 2016.

essay-beriun


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s