Tidak Ada Peta yang Cocok

dsc_0215-copy
Tiap malam seluruh anggota tim mengavaluasi dan merencanakan pergerakan.

KAWASAN hutan hujan tropis Kalimantan dikenal sebagai hutan tropis dunia selain Amazon di Amerika Selatan. Hutan Kalimantan merupakan paru-paru dunia. Sumbangan oksigen untuk Bumi salah satunya berasal dari Kalimantan.

Salah satu hutan hujan tropis itu diteliti tim Eiger Black Borneo Expedition 2016 di kawasan Gunung Beriun. Nama gunung itu belum sepopuler gunung lainnya di pelosok Nusantara.

dsc_0510-copy
Mengecek keberadaan posisi menggunakan GPS.

Bahkan, tim ekspedisi tidak memiliki informasi lengkap soal gambaran medan yang akan ditempuh. Mesin peramban di dunia maya pun tak mampu memberikan jawaban memuaskan. “Mengapa dinamakan Black Borneo Expedition, selain medan yang dijelajahi berupa hutan Kalimantan yang masih gelap dan belum terjamah orang, informasi mengenai Gunung Beriun juga tak kalah gelap,” ujar Mamay S Salim, ketua ekspedisi, saat pelepasan tim di Kantor Pusat Eiger di Bandung, Senin (29/8).

Bahkan, peta kontur bumi yang dikeluarkan Badan Informasi Geospasial  tidak bisa diandalkan. Seperti kejadian saat tim ekspedisi menggunakan peta itu, ternyata banyak ketidakcocokan dengan data di lapangan.

dsc_0475-copy
Mengecek peta kontur yang dikeluarkan Badan Geospasial Indonesia.

Misalnya, Gunung Beriun yang merupakan wilayah utama yang dijelajahi tim tidak muncul di peta. Tim memilih membawa peta kontur yang diprediksi merupakan wilayah di sekitar Gunung Beriun. Lucunya, dalam peta itu tertulis Gunung Tondoyan. Saat dicocokkan di lapangan, seharusnya Gunung Beriun yang tercantum di peta, bukan Gunung Tondoyan.

“Selain itu, ada yang keliru, seperti titik Gunung Kulat yang ada di peta seharusnya Gunung Tondoyan,” ujar Iwan ‘Kwecheng’ Irawan, Koordinator Operasi Eiger Black Borneo Expedition 2016.

dsc_0134-copy
Mengecek titik tertinggi Gunung Beriun dengan peta digital.

Peta digital pada Google Earth pun tidak akurat meletakkan posisi Gunung Beriun. Posisi Gunung Beriun berada jauh di bawah punggungan hutan yang dilalui tim.  Alhasil, selama pembukaan jalur mencari titik tertinggi Gunung Beriun, selain melalui pengamatan langsung, tim pun hanya mengandalkan global position system digital yang dibawa.

“Terbatasnya data tersebut merupakan tantangan dan kendala terbesar dalam ekspedisi ini,” tutup Galih Donikara, pegiat luar ruang yang turut serta dalam ekspedisi.

Tulisan ini juga dimuat di rubrik Fokus Nusantara Media Indonesia edisi Rabu, 12 Oktober 2016.

fokus-nusantara


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s