Menjaga Merah Sungai Marak

dsc_0365-copy
Menyeberangi aliran Sungai Marak yang tenang.

RICIK air tak henti mendendangkan suara alam, menyambut tim  Eiger Black Borneo Expedition 2016 saat tiba di basecamp induk di kawasan hutan Gunung Beriun, Kutai Timur, Kalimantan Timur, awal September silam. Penasaran, saya melongok ke sumber suara yang berada tepat di bawah basecamp.

Alangkah indahnya. Suara itu bersumber pada aliran sungai yang sangat jernih, dengan sedikit bebatuan di dasarnya.

Tidak seperti sungai pada umumnya, air yang deras mengalir itu berwarna merah.

Menurut Ketua Pertahanan Adat Dayak Basap, Firmansyah, yang ikut dalam ekspedisi, sungai merah itu sudah ada sejak dulu. Karena warna airnya itulah, sungai tersebut dinamai Sungai Marak atau sungai merah dalam bahasa Dayak Basap. “Air berwarna merah karena hutan Gunung Beriun yang menjadi hulu sungai, masih sangat lebat. Kalau hanya karena serbuk tanaman, paling sekitar 5 meter sudah tidak jernih lagi. Ini berwarna merah hingga ke desa,” jelasnya.

dsc_0025-copy
Air Sungai Marak menjadi tumpuan tim ekspedisi, diantaranya untuk kebutuhan air minum.

Anehnya, empat sungai lain yang juga berhulu di Gunung Beriun, yaitu Sungai Nyuaring, Intai, Nabri, dan Pangean, tidak berwarna merah.

Air di Sungai Marak juga tidak memiliki rasa sehingga layak untuk diminum. Karena itu, tim pun memenuhi kebutuhan air selama ekspedisi dengan air dari sungai ini.

Saya pun menceburkan diri untuk membilas tubuh. Layaknya air pegunungan di tempat lain, air Sungai Marak juga terasa dingin. Badan yang lengket, berkeringat, akibat perjalanan darat yang menguras tenaga dari Sangatta ke desa terakhir, yakni Karangan, langsung terasa segar.

Di tengah membasuh badan itulah, Firmansyah mengingatkan saya untuk tidak menanggalkan seluruh pakaian. “Ada beberapa pantangan lain bagi yang ingin mandi di Sungai Marak,” ungkapnya.

Air Sungai Marak juga dipercaya mampu menjadi obat awet muda. “Debit air sungai yang meningkat karena hujan membuat air berkilau laksana cahaya. Saat itulah momen yang tepat untuk mengambil air Sungai Marak untuk menjadi obat awet muda,” tutur Firmansyah.

2-dsc_0414-copy
Berusaha menyeberangi aliran Sungai Marak yang meluap saat turun gunung.
dsc_0408-copy
Ketika aliran sedan deras, air mengeluarkan busa seperti sabun.

Sungai Marak mengalir sejauh 9 kilometer. Muaranya berada di Desa Muara Bulan.

Sungai Marak juga menjadi tumpuan bagi warga Kampung Baay. Seluruh warga memanfaatkannya untuk semua kegiatan.

“Kelestarian Sungai Marak mulai terancam. Ada aktivitas penebangan hutan resmi maupun ilegal di Gunung Beriun,” papar Firmansyah.

Ia mengaku tidak bisa membayangkan Sungai Marak tidak berwarna merah segar lagi. Jika saat itu tiba, berarti bencana bagi daerahnya. (Bry/N-2)

=====
Tulisan ini juga dimuat pada rubrik Fokus Nusantara Media Indonesia edisi Rabu, 12 Oktober 2016.

fokus-nusantara


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s