Peradaban di Jantung Karst Sangkulirang

DEBU-DEBU beterbangan menutup jarak pandang di belakang mobil double gardan yang saya tumpangi. Siang itu, Selasa (6/9), saya menuju basecamp induk tim Eiger Black Borneo Expedition 2016 di kaki Gunung Beriun, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Sebelumnya, butuh dua hari bagi saya untuk sampai di desa terakhir di Karangan setelah menempuh perjalanan darat dari Balikpapan dan Sangatta.

Sekitar 48 km melahap medan offroad dari Karangan, sampailah saya di pondokan, berupa tiga rumah panggung dari kayu yang biasa digunakan karyawan PT Segara Indochem untuk beristirahat. Ini juga titik terakhir yang bisa dicapai kendaraan. Sekitar 500 m dari Pondokan, ada basecamp induk yang didirikan anggota tim yang telah tiba lebih dulu.

dsc_0477-copy
Medan offroad mesti dilalui tim untuk menuju kaki gunung.
dsc_0473-copy
Pondokan karyawan PT Segara Indochem, titik terkahir kendaraan tim ekspedisi.
dsc_0176-copy
Suasana basecamp induk.

Kamis (8/9), seluruh tim bergerak meninggalkan basecamp induk, mencari titik tertinggi Gunung Beriun. Tidak hanya naik turun punggungan hutan, tim juga berulang kali melintasi Sungai Marak.

Miris, di tengah lebatnya hutan, tim menemukan jalur khusus untuk membawa kayu. Jalur logging ini sengaja dibuat perusahaan penebangan kayu. “Jalur logging ini sampai ke bagian atas Gunung Beriun. Mereka mengincar kayu-kayu yang kualitasnya bagus dan berusia tua,” kata Ketua Pertahanan Adat Dayak Basap, Firmansyah.

dsc_0401
Jalur logging banyak ditemukan tim ekspedisi di Gunung Beriun.

Untuk membawa kayu-kayu hasil tebangan di hutan Gunung Beriun, perlu jalan khusus dengan lebar sekitar 5 meter agar kendaraan bisa melintas. “Kayu yang tidak masuk produksi pun terkena dampaknya. Ikut ditebang,” ujar pria yang mengaku lahir di gua batu karst sekitar Gunung Beriun 47 tahun silam.

Dalam perjalanan dari basecamp induk menuju kamp 1, tim menemukan jamur hutan yang bersembunyi di balik lumut yang menghampar di tanah. Di sekitar hamparan jamur ada banyak ditemukan kantung semar (Nephentes spp.) Bentuk jamur seperti telur mata sapi. Masyarakat setempat menamainya jamur mata sapi. Jamur tersebut digunakan untuk pengobatan menurunkan kolesterol, meningkatkan stamina, mengobati diabetes, asma, hingga jantung.

Flora lainnya ialah anggrek hutan yang menjadi primadona hutan Gunung Beriun. Anggrek kuping gajah dan anggrek surun merupakan tanaman hias primadona khas di wilayah itu. Ada juga anggrek hitam yang menjadi maskot flora Provinsi Kalimantan Timur. Namun, anggrek hitam saat ini mengalami penurunan populasi yang cukup signifikan, seiring dengan berkurangnya luas hutan di wilayah itu.

dsc_0324
Jamur mata sapi yang langka dan memiliki banyak manaaat.
dsc_0184
Anggrek Hitam khas Kalimantan Timur yang makin berkurang populasinya.

“Dahulu anggrek hitam banyak tersebar di Gunung Beriun. Sekarang populasinya makin jarang,” ujar Firmansyah yang juga anggota Perhimpunan Pelestari Anggrek Kalimantan.

Selain flora yang eksotis, juga banyak dijumpai satwa seperti monyet, ayam hutan, bekantan, kancil, pelanduk, berbagai jenis tupai seperti tupai mangas, tupai nyakit, tupai tabu, tupai buki, dan tupai rang merah, dan berbagai jenis burung endemik Kalimantan.

3-dsc_0260
Susana Camp 1. Semua anggota tim tidur di hammock, kecuali Anita Russian (jurnalis Metro TV) yang menggunakan tenda, supaya lebih mudah mengganti kostum 😀
11-dsc_0265-copy
Menghangatkan badan sekaligus mengeringkan pakaian setelah melakukan pergerakan di bawah guyuran hujan.
8-dsc_0199-copy
Kang Soni ‘Oz’ Takari yang juga sebagai tim regu pembuka jalur mengasah mandau untuk membuka jalur.

Warisan dunia

Dilihat dari kompleksitas isi hutan dan potensinya, sangat disayangkan bila Gunung Beriun semakin rusak atau bahkan menghilang dari bumi Kalimantan. Padahal, jika dikelola dengan baik, Gunung Beriun bisa dijadikan salah satu tujuan wisata alam yang menarik. Apalagi, di sekitar Gunung Beriun juga terdapat berbagai gunung batuan karst dengan gua yang memiliki aneka gambar cadas peninggalan era prasejarah.

“Kalau saya menganalogikan, Beriun ini jantungnya karst. Posisi Beriun dikelilingi oleh gunung bebatuan karst. Dengan lebat hutannya, Beriun mampu memberi kelembapan alami bagi karst, memberi sumber air baik untuk karst maupun 150.000 penduduk di desa, dan juga sumber makanan bagi hewan yang hidup di karst seperti kelelawar dan walet,” ujar Pindi Setiawan, peneliti dari Institut Teknologi Bandung yang turut serta dalam ekspedisi.

Ia menambahkan, gambar cadas di Karst Sangkulirang merupakan salah satu yang tertua di dunia, berusia hingga 40 ribu tahun yang lalu. Gambar cadas di kawasan ini ada sejak Indonesia belum berbentuk kepulauan, atau lebih dikenal zaman es.

Di kawasan Sangkulirang, aneka bentuk gambar cadas dapat ditemui. Seperti di Goa Mangkuris yang juga saya kunjungi, selain gambar tapak tangan, ada juga gambar hewan seperti monyet, babi, dan rusa. “Bisa melihat gambar tapak tangan saja sudah istimewa, di sini gambar tapak tangannya pun memiliki komposisi yang menarik dan tersusun rapi. Itu sangat langka di dunia,” lanjut Pindi.

dsc_0817-copy
Karst Mangkuris.
dsc_0705
Gambar cadas tapak tangan di dinding Gua Karst Mangkuris.
dsc_0021
Karst Ara Raya, lokasi Firmansyah, Ketua Pertahanan Adat Dayak Basap, dilahirkan.

Dalam konteks kelimuan, gambar cadas yang terdapat di Sangkulirang mampu memberi informasi dan pengetahuan kepada generasi sekarang tentang kehidupan manusia zaman dahulu. Misal, ada gambar pelontar tombak yang digunakan untuk berburu mamalia besar. Namun, melontar tombak di hutan tropis merupakan kegiatan yang mustahil dilakukan. “Berarti wilayah di sini dahulunya merupakan daerah yang jarang hutan seperti padang savanna. Lalu kita teliti lagi, ternyata hutan tropis di Kalimantan tumbuh sekitar 8.000 tahun yang lalu. Berarti gambar cadas ini berusia lebih dari 8.000 tahun, karena mustahil mereka menggambar hal yang tidak ada kaitannya. Setelah diteliti lagi, ternyata usia gambar cadas itu hingga 40.000 tahun yang lalu,” jelas Pindi.

“Jika dikelola dengan baik, wisata alam di Gunung Beriun bersanding dengan ‘wisata 40.000 tahun’ bisa memakmurkan penduduk setempat. Saat ini ada hampir 40 situs yang sudah terdata,” ujar pria yang sudah meneliti kawasan Karst Sangkulirang sejak 1995 silam.

Di Eropa, wisatawan yang ingin melihat gambar cadas di dalam gua harus membayar dengan harga mahal dan tidak mudah untuk mendapat izin agar bisa melihat. Namun, di Indonesia, cukup datang ke Karst Sangkulirang yang berada di sekitar Gunung Beriun.

Dari 40 situs itu, 15 sudah terdaftar sebagai cagar budaya. Sisanya masih menunggu. Ia berharap, pemerintah segera mengajukan kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO, dan wilayah Gunung Beriun turut dimasukkan supaya alamnya tetap asri dan terjaga. Namun, ia menyadari itu tidak mudah karena akan melibatkan lintas kementerian.

Irwan, dari Forum Peduli Karst Kutai Timur berharap ada moratorium dari pemerintah mengenai izin pemanfaatan hasil hutan Gunung Beriun. “Beriun dan karst sama pentingnya. Beriun rusak, air tidak akan mengalir. Selain mengganggu kehidupan warga, itu juga akan mengganggu investasi di perkebunan sawit. Karst rusak, tidak akan ada yang menahan air dari Beriun. Banjir besar bisa datang,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Nadjamuddin Ramly, Direktur Warisan dan Diplomasi Kebudayaan Kemendikbud mengatakan Karst Sangkulirang sudah direncanakan untuk diajukan Indonesia menjadi warisan budaya dunia. “Kita sudah adakan sosialisasi dan pameran di Samarinda. Tapi, kita masih perlu melengkapi dokumennya. Kalau bisa lebih cepat dan ada input data dari rekan-rekan semua, justru Karst Sangkulirang bisa lebih dulu diajukan dibandingkan Sawah Lunto dan Banda Neira yang juga akan diajukan pemerintah,” ujarnya.

dsc_0261-copy
Ramai-ramai menjamah sisi tergelap hutan Kalimantan.
dsc_0328-copy
Bukan hanya tanah, jalur juga melintasi batang pepohonan yang tumbang.

Menggapai Puncak Beriun Raya

Perjalanan mendaki Beriun terus berlanjut. Tim ekspedisi sudah berjalan mendekati puncak Beriun Raya. Titik terakhir tim bermalam berada di balik batu besar di ketinggian 1.003 mdpl yang kami beri nama Advance Basecamp.

Minggu (11/9), pukul 04.00 dini hari saya terbangun karena tiupan angin yang menggerayangi jari-jari kaki. Hari ini, Puncak Beriun Raya adalah tujuan kami. Saat bersiap-siap, saya terkejut, ada beberapa pacet di balik hammock. Ternyata, lokasi  bermalam kali ini ini dipenuhi pacet. Tidak mengherankan, karena hutan semakin rapat, basah, dan berlumut.

Tim pun bersiap untuk menuju puncak Beriun Raya. Menuju puncak, pijakan kaki agak empuk karena di wilayah itu banyak lahan gambut yang tebal. Rasanya seperti menapak di karpet tebal. Tepat pukul 11.00 Wita, tim Eiger Black Borneo Expedition 2016 berhasil mencapai puncak Beriun Raya dengan ketinggian 1.261 mdpl.

dsc_0075-copy
Berdoa dan bersyukur atas keberhasilan mencapai Puncak Beriun Raya 1261 mdpl.

Untuk pertama kalinya sebuah kegiatan ekspedisi sekaligus pendataan flora dan fauna dengan penentuan spot di puncak Beriun Raya.

Sujud syukur dan tangis haru pecah di puncak. Upacara syukur khas adat Dayak menjadi penutup, sebelum tim turun kembali ke basecamp. Perjalanan selama ekspedisi yang saya rasakan merupakan perpaduan antara alam, peradaban manusia, dan kearifan lokal yang cukup sempurna di Beriun Raya.

======

Tulisan ini juga dimuat pada rubrik Fokus Nusantara Media Indonesia edisi Rabu, 12 Oktober 2016.

fokus-nusantara


One thought on “Peradaban di Jantung Karst Sangkulirang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s