Dis Aliter Visum

DSC_0620 copy
Pose bersama di basecamp Papandayan sebelum mendaki.

Guyuran air dari langit makin deras. Alas sepatu bercampur tanah dari batuan kapur yang lapuk dan lumpur memperberat laju tubuh. Sejejak demi sejejak secara perlahan yang akhirnya membawa saya bersama 22 rekan seperjalanan sampai di tepi sungai, di jalur menuju Tegal Alun, Gunung Papandayan, Garut.

Aliran sungai amat deras dengan warna air kecokelatan. Baru kali ini saya lihat setelah berkali-kali menyeberangi sungai selebar kurang lebih 2,5 meter ini. Rupanya hujan lebat juga melanda bagian atas gunung.

Setelah mengecek tali webbing terpasang baik, saya menceburkan diri ke sungai untuk memastikan keamanan kondisi jalur yang akan dilalui teman-teman.

DSC_0791 copy
Bersantai sejenak menikmati danau yang sepi.

Sungai yang biasa saya lalui ‘hanya’ dengan melompat dari batu ke batu itu kini bak sungai yang berbeda. Kedalamannya menjadi setinggi lutut saya. Arusnya yang kencang mendorong-dorong tubuh seakan sedang murka. Beban di depan dan belakang tubuh saya turut menambah kerja otot-otot tangan untuk menggenggam tali webbing lebih keras.

“Gila nih, bawa badan sendiri saja susah payah, bagaimana nanti sambil memegangi teman-teman?” pikir saya khawatir.

Saya menoleh ke sisi sungai dan Edy Pras, salah satu rekan seperjalanan, memberi sinyal yang menambah keyakinan saya untuk balik arah. Tampaknya terlalu berbahaya untuk menyeberangi sungai yang tengah mengamuk ini.

Saya lantas menaiki batu yang lebih tinggi untuk berpijak sejenak sebelum kembali ke tepi sungai tempat teman-teman menunggu. Tali webbing kali ini juga terikat di tubuh, dan saya bergegas nyemplung untuk kembali ke tepi sungai.

DSC_0805 copy
Hujan makin deras mengguyur setelah Tugu.

Hanya dalam hitungan menit, ternyata debit air makin tinggi. Kini tinggi air sudah sepinggang saya. Susah payah, akhirnya saya berhasil mencapai pinggiran sungai. Rencana perjalanan terpaksa berubah total. Mau tidak mau, tim mesti balik arah ke jalur pendakian semula. Itu pun bukan tanpa tantangan.

Licinnya trek yang dilalui menjelma rintangan. Mental yang down karena mesti kembali, dan cuaca yang makin tak bersahabat, turut menghambat perjalanan. Gelegar petir membuat suasana tambah mencekam.

Gelap datang saat tim masih jauh dari tempat yang terlindung. Tujuan kami sekarang ke tenda-tenda warung di tepi kawah untuk berteduh dan menghangatkan diri. Rasa lelah di sekujur tubuh, perut yang meronta-ronta, hingga badan yang menggigil karena tiupan angin, dirasakan semua.

Tepat pukul 19.30 WIB, saya dan beberapa anggota tim terakhir akhirnya tiba di tempat aman meski bukan lokasi berkemah yang direncanakan. Tugas selanjutnya, meminta kiriman tambahan tenda dari basecamp, belanja logistik darurat untuk menghadapi malam, dan menjaga kondisi tim tetap kondusif.

 

Separuh perjalanan sudah diraih, separuh lainnya mudah-mudahan kita gapai lain waktu. Semoga teman-teman bisa paham dan menerima karena esensi perjalanan adalah kembali ke rumah dengan selamat, bukan melawan kehendak alam.

Seperti ungkapan latin, dis aliter visum, kita boleh merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan.

Mohon maaf dan terima kasih…

 

 

Slideshow foto-foto pendakian bisa lihat di boks bawah ini:

This slideshow requires JavaScript.

 

Bagi teman-teman yang mau file mentah foto perjalanan kemarin bisa download di sini

 

 


2 thoughts on “Dis Aliter Visum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s