Awal Tahun di Ujung Jawa

Agas atau sand fly, serangga kecil bak nyamuk, telah menggoyahkan manajemen waktu kehidupan saya dalam beberapa pekan ini. Bagaimana tidak, sebaliknya dari perjalanan pada 2 Januari lalu, tulisan ini baru sekarang selesai.

Waktu luang saya lebih banyak untuk menggaruk bekas gigitan agas di sekujur tubuh. Tanpa ampun, mereka meninggalkan sekitar 39 jejak gigitan di tubuh saya. Berbeda dengan nyamuk yang gatal gigitannya langsung terasa, gatal-gatal bekas gigitan agas baru terasa beberapa hari kemudian dengan bercak merah mirip jerawat besar.

Bentrok antara saya dan agas terjadi awal tahun ini, saat trekking menyusuri hutan dan pantai di Taman Nasional Ujung Kulon.

Pada 31 Desember, saya dan rombongan Kulonutrekk berangkat dari Jakarta sekitar menjelang pergantian tahun. Kami berkendara sekitar delapan jam, melewati beberapa bagian jalan bak kubangan kerbau.

20160102_171845
Jalanan hancur bak kubangan kerbau.

Pegal-pegal? Sudah pasti. Maka itu sesampai di Taman Jaya, kurang lebih pukul 07 pagi, saya bergegas turun dan meregangkan otot.

Mas Taufik, pemandu sekaligus ketua rombongan, mengajak kami sarapan di kediaman seorang warga lokal. Kang Dedi, namanya. Mengenakan peci, sarung, serta kaos oblong putih, ia bersila menunggu kami. Di hadapannya, hidangan untuk 22 orang telah tersaji.

DSCF8378
Menikmati sarapan di rumah Kang Dedi.

Sambil menemani kami bersantap, Kang Dedi pun bercerita ngalor-ngidur.

“Pantangan trekking di Ujung Kulon itu ada 3. Pertama, jangan bersiul. Kedua, jangan mematahkan ranting-ranting pepohonan. Yang terakhir, jangan buang air sambil berdiri, apalagi untuk yang wanita,” kelakarnya yang disambut tawa sebagian rombongan.

Kami meninggalkan rumah Kang Dedi sekitar pukul 09.30 WIB. Tujuan kami, Pos Legon Pakis sebagai titik awal trekking. Harusnya perjalanan awal ini ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih sejam. Tapi, supaya tidak terlalu molor dari jadwal, Mas Taufik memutuskan untuk memakai kendaraan ke Legon Pakis.

Dengan elf, hanya butuh 15 menit untuk sampai sana. Ada bangunan untuk kantor sekaligus tempat tinggal petugas di Legon Pakis. Namun, mereka seakan cuek dengan keberadaan kami. Simaksi pun tidak ditanya.

DSC_0969
Start dari Pos Legon pakis.

Oh ya, simaksi TNUK biasanya diurus di kantor yang ada di Taman Jaya. Biayanya per hari Rp5.000 Senin-Jumat, dan Rp7.500 untuk Sabtu-Minggu. Proses pendaftarannya sangat mudah, bisa dilakukan on the spot. Tidak berbelit seperti kita mengurus simaksi Gunung Gede Pangrango. Mungkin lantaran jumlah pengunjung belum terlalu masif.

Mulai trekking

Dari Legon Pakis, perjalanan diawali dengan menyusuri lahan sawah penduduk. Ada pagar kawat berduri tepat sebelum jalur masuk dalam hutan. Selain sebagai pembatas wilayah TNUK dengan permukiman, pagar tersebut juga berfungsi supaya hewan-hewan dalam hutan tidak masuk ke lingkungan warga.

DSC_0977
Pahlawan pangan.
DSCF8394
Pagar pembatas wilayah Taman Nasional dengan pemukiman.

Nyanyian fauna menyambut ketibaan kami di hutan. Udara terasa hangat, agak lembab.

Jalur hutan yang kami lewati relatif datar, meliuk-liuk, dan ada beberapa jembatan pendek yang mesti diseberangi. Tapi, jangan khawatir, tidak ada persimpangan membingungkan di sepanjang jalur. Jalur ini memang biasa dilalui para petugas taman nasional untuk berpatroli di kawasan yang sejak 1992 ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia.

DSC_0996
Udara hangat dan agak lembab khas hutan hujan tropis.
DSCF8410
Curah hujan belum begitu tinggi, sungai pun masih mengering.

Setelah berjalan beberapa jam, teriakan ombak mulai terdengar. Pantai Selatan sudah dekat. Benar saja, tidak sampai sejam, shelter Pos Kalejetan terlihat. Saat itu, arloji menunjukkan pukul 13.50. Dari shelter yang berkoordinat LS 06º51’46.183” dan BT 105º29’40.499” tersebut, pantai terlihat jelas.

Meski tampak tidak berpenghuni, shelter berupa bangunan permanen itu cukup terawat. Di situ, kami rehat sembari menikmati bekal makan siang dan mangga masam.

DSCF8511
Pos Kalejetan.

Saya lalu menggelar flysheet di bawah pohon rindang. Merebahkan badan sejenak setelah perut terisi kalori pengganti yang terbakar di tengah hutan.

Sekitar pukul 15.30, saya terbangun. Sambil ‘mengumpulkan nyawa’ yang berterbangan saat tertidur, saya melihat sejumlah rekan berjalan dari arah muara sungai.

Di tempat pertemuan laut dan sungai itu, mereka menambah persedian air tawar untuk bekal perjalanan berikut. Walaupun jalur yang akan dilalui berlimpah air, tetap saja kami tak bisa meminumnya langsung, kecuali memang ingin membuat tenggorokan makin kering.

DSCF8448
Muara sungai sebagai sumber air tawar yang tidak jauh dari Pos Kalejetan.

Dari shelter, kami kembali menembus hutan. Namun, sebentar saja, jalur kembali terbuka. Samudra Hindia di hadapan kami. Excited!

Sepanjang empat jam berikut, birunya air Samudra Hindia mengiringi perjalanan kami menyusuri pantai, menuju shelter Karang Ranjang.

Namun, tanpa rindangnya pohon untuk berlindung, teriknya matahari tanpa ampun memanggang kulit. Suhu saat itu sekitar 35º sampai 39º celcius. Hanya topi, slayer, dan payung yang saya andalkan sebagai tameng.

DSC_0049
Mulai menyusur pantai.
DSC_0028
Menggunakan payung sebagai penangkal panas.

Pasir putih, bebatuan koral, hingga padang lumut dan rumput laut menghiasi sepanjang jalur. Kadang saya sengaja menceburkan kaki ke tepi pantai. Selain untuk mendinginkan kaki, pasir yang menempel di kaki juga mengganggu langkah. Salahnya cuma pakai sandai, saya merutuki diri sendiri.

DSC_0094
Dari pantai berpasir hingga berkarang disusuri.
DSC_0035
Awas bulu babi!
DSC_0076
Berjalan perlahan hadapi rintangan.

Sesekali jalur berbelok menembus hutan di pinggir pantai karena terdapat tebing koral yang tidak dapat dilalui. Namun, tidak lama kemudian jalur kembali ke sisi samudra.

Kurang lebih pukul 18.00, baskara perlahan menghilang. Kamera langsung saya posisikan siap untuk mengabadikan momen matahari tenggelam di hari pertama 2016. Semburan jingga berbalut awan nan merekah dan hamparan samudra memang selalu menarik untuk dibidik lensa.

DSC_0209
Menjelang gelap, semburan jingga memompa semangat.

Link terkait: Jingga dan Senja yang Menggoda

Ada 8 km sudah jarak yang ditempuh untuk menyusuri pantai dari Pos Kalejetan tadi. Dari mulai matahari terik sampai kini mesti memakai cahaya headlamp untuk melihat jalur. Sekitar pukul 20.00, kami tiba di Karang Ranjang.

Bangunan shelter 1 lantai dengan luar sekitar 100 m2 menjadi tempat beristirahat malam ini. Pos yang terletak pada koordinat  06º50’29.111” dan BT 105º27’10.426” berlokasi kurang lebih 100 m dari bibir pantai.

DSCF8685
Pos Shelter Karang Ranjang.

Teror

Ada dua sumur air tawar di sekitar shelter. Satu di depan bangunan, satu lagi di belakang. Saya memilih sumur di depan untuk membasuh diri. Pikir saya, gelapnya malam akan menghalangi orang-orang untuk melihat kegiatan saya itu.

Sebenarnya, ada juga dua ruang kakus di samping shelter. Akan tetapi, tidak ada aliran air di situ. Kita harus menimba dan menampung air dari sumur, baru membawanya ke kakus. Terlalu melelahkan bagi saya saat itu.

DSCF8686
Sumur sebagai sumber air tawar yang berada di depan shelter.

Malam tersebut, langit cukup cerah dan bintang-bintang terlihat jelas. Saya memutuskan untuk beristirahat dalam tenda, sementara sebagian besar anggota rombongan tidur di shelter. Flysheet sengaja saya buka agar bisa berbaring sambil menatap langit. Alarm saya pasang untuk pukul 03.00 dengan harapan taburan bintang yang sedang di atas kepala sudah pindah ke sisi lebih rendah. “Semoga kali ini berjodoh bisa memotret milkyway,” harap saya.

Rasa-rasanya belum lama tertidur ketika mendadak saya terbangun oleh kelip cahaya. Bukan cahaya bintang yang diharapkan, melainkan kilat!

Saya punya trauma tersendiri terhadap petir dan kilat setelah pengalaman buruk di puncak Gunung Rakutak tahun lalu. Tapi, itu cerita tersendiri.

Kilat terus terlihat di langit kelam. Bintang-bintang yang saya harapkan menghilang. Angin juga tiada bertiup, membuat tenda terasa pengap. Alhasil, saya putuskan pindah tidur ke beranda shelter.

Ternyata, bukan keputusan tepat. Kehadiran saya memeriahkan pesta nyamuk-nyamuk hutan, atau serangga yang menyerupai. Rapatnya kaos dan celana panjang tidak mampu menahan teror mereka, pun spray antinyamuk yang berulang kali saya semprot ke kulit. Saking ganasnya, gigitan mereka terasa menembus pakaian.

Saya tidak sendirian dalam usaha melawan gempuran serangga menyebalkan tersebut. Yudhy, rekan perjalanan yang saat itu juga tidur di teras bernasib sama. Bahkan, ia lebih ‘grasak-grusuk’ demi mencoba tidur di tengah gigitan nyamuk. Mulai dari tengkurap, terlentang, miring, sampai akhirnya tidur sambil duduk. Kaos kaki tebal lengkap dengan sepatu bootsnya pun dikenakan demi menangkal vampir-vampir kecil itu.

Sekitar pukul 05.00 pagi, hujan deras turun. Kami akhirnya bisa terlelap sejenak. Sayup-sayup, terdengar seruan kaget beberapa rekan yang keluar ke beranda dan menemukan kami menggeletak di situ.

“Buset, ini ngapain tidur di luar sambil pakai sepatu?” seru salah satu dari mereka.

Kembali ke Taman Jaya

Silau. Mata saya mencoba melihat jelas suasana sekitar. Jarum jam menunjukkan pukul 09.00 dan saya baru saja terbangun. Segelas teh hangat sudah ada di sisi saya. Rupanya Ari, salah seorang kru Kulonutrekk, membuatkan teh untuk kami.

Ia sempat terheran-heran saya bangun ‘siang’. Dia tidak tahu perang sengit saya melawan nyamuk berlangsung sampai pagi. Tidak ada pilihan selain tidur di beranda karena di dalam shelter sudah penuh oleh rekan-rekan lain. Dan, di situ jugalah agas menggerayangi saya.

Rute trekking pagi ini menuju arah utara. Kembali masuk ke hutan hujan Taman Nasional Ujung Kulon hingga menembus pantai sisi utara. Jadi, dari Pantai Karang Ranjang di selatan, kami kembali memotong hutan hingga ke pantai sisi utara dan Cilintang.

DSC_0257
Berpapasan dengan para peziarah.

Kondisi jalur relatif sama seperti saat menuju Kalejetan, yaitu mendatar, berkelok-kelok, dan menyeberangi beberapa jembatan. Namun, perbedaan tipe ekosistem hutan dapat terlihat jelas di jalur menuju Cilintang ini. Dimulai dari hutan pantai dengan struktur tanah yang masih banyak mengandung pasir. Lalu masuk ke hutan bakau dan hutan hujan tropis yang menutupi sebagian besar semenanjung Ujung Kulon.

“Jembatan yang kita seberangi tadi kalau di musim hujan bisa terbenam. Kita pun bakal jalan di genangan lumpur yang dalamnya bisa 1 meter,” jelas Mas Taufik berbagi pengalaman. Ia memang sering menjelajah wilayah Semenanjung Ujung Kulon sejak beberapa tahun lalu hingga akhirnya mendirikan jasa perjalanan Kulonutrekk.

Kita pun menjumpai hutan rawa air tawar di perjalanan menuju Cilintang. Hutan jenis ini ditandai dengan tanaman dari familia palmae seperti salak dan sayar. Jembatan dengan muara sungai yang indah juga mengantar menuju titik tujuan selanjutnya. Gunung Honje di kejauhan tampak gagah berdiri di balik deburan ombak pantai utara.

DSC_0260
Gunung Honje di kejauhan.
DSCF8702
Sampah plastik dari pantai-pantai wisata di Banten.

Hujan yang turun sejak pagi menderas ketika rombongan tiba di pos Cilintang. Di sana, ada Javan Rhino Study and Conservation  Area (JRSCA) yang diresmikan pada 2010. RSCA merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menyelamatkan badak jawa (Rhinocerous sondaicus) dari kepunahan.

Dari hasil monitoring dengan video kamera pada 2011, jumlah populasi badak jawa yang tertangkap kamera sebanyak 35. Ada 22 jantan dan 13 betina dewasa, sisanya anak badak. Populasi kecil itu memiliki risiko kepunahan yang sangat tinggi di taman nasional seluas 122.956 ha ini.

DSC_0294
Menyusur jembatan dengan perlahan.
DSCF8714
Hujan mengguyur tiada henti.

Lewat tengah hari, kami sampai di Legon Pakis. Kali ini, tidak ada elf yang akan mengantar kami kembali ke rumah Kang Dedi untuk makan siang dan bersih-bersih.

Untungnya, di tengah jalan, ada mobil bak terbuka yang searah dengan kami dan bersedia ditumpangi. Selang beberapa menit, kami sampai di halaman rumah Kang Dedi yang sudah menunggu kami di balai-balainya.

Total sekitar 23 km perjalanan trekking di Semenanjung Ujung Kulon kami lalui dalam dua hari. Tidak heran perjalanan pulang sekitar 300 km menuju Ibu Kota akhirnya saya lewati sambil tertidur pulas.

DSC_0242
Pose keluarga.

One thought on “Awal Tahun di Ujung Jawa

  1. Salam
    mohon bantuan, apakah saya bisa mendapatkan no contact kang Dedi? sebelumnya saya sudah 2x ke ujung kulon, terakhir tahun 2014, tapi saya kehilangan no contact beliau, karena sebelumnya saya menghibungi almarhum pak Warca. terima kasih atas bantuannya.

    salam

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s