Menikmati Jatiluhur dari Puncak Lembu

DSC_0555 copy
Jika dilihat dari kejauhan seperti ini, terlihat Gunung Lembu yang menyerupai punggung hewan lembu.

BEBERAPA waktu lalu, saya bersama rekan-rekan berkesempatan menjelajahi gunung ini. Kami memilih mendaki pada malam hari untuk membuktikan bahwa naik gunung juga bisa mengisi waktu liburan yang singkat, tentunya sambil menikmati fajar di puncak.

Berangkat dari Jakarta pukul 20.30 WIB, kami tiba di basecamp pendakian mendekati pertengahan malam. Jalur yang dilalui kendaraan dari jalan raya menuju kaki gunung pun relatif bagus, tidak rusak ataupun berlubang. Jadi, tidak perlu khawatir jika ingin memakai kendaraan pribadi.

Walau sudah larut malam, ternyata petugas yang berjaga di basecamp masih ramai. “Biasanya kalau malam minggu lumayan ramai yang naik, termasuk bulan puasa lalu,” ujar Misbah, salah satu petugas yang berjaga.

Gunung Lembu memang mulai populer. Dengan upaya swadaya masyarakat sekitar, gunung ini dibuka untuk umum sejak awal tahun ini. “Alhamdulillah, sejak dibuka hingga sekarang sudah sekitar 5.000 orang lebih menginjakkan kaki di Gunung Lembu,” lanjut Misbah.

Setelah perlengkapan, logistik, dan seluruh anggota tim siap, tepat pukul 00.00 pendakian dimulai. Tidak lupa kami berdoa dahulu sebelum mendaki agar seluruh anggota diberi keselamatan.

DSCF4361 copy
Jalur lumayan terjal, tapi di beberapa titik sudah dipasang webbing sebagai pengaman.
DSC_0429 copy
Batu Lembu, salah satu spot terbaik untuk melihat sunrise di Gunung Lembu.
DSC_0514 copy
Asyik foto-foto asal tetap mawas diri.

Basecamp yang juga titik awal pendakian berketinggian 470 mdpl. Hutan bambu yang lebat serta jalur menanjak mengawali trek pendakian. Beruntung saya sempat mengoleskan losion antinyamuk karena nyamuk dan serangga lumayan banyak di jalur tersebut.

Sekitar 15 menit berjalan, jalur bercabang menjadi dua. Sesuai dengan petunjuk di papan, kiri menuju punggung Lembu, kanan ke tempat perkemahan. Tempat perkemahan tersebut mampu menampung hingga 300 tenda. Menurut info petugas basecamp, tempat tersebut ialah salah satu spot bagus untuk menikmati matahari terbit di Gunung Lembu.

Meski begitu, kami memilih jalur sebelah kiri karena tujuan kami, Batu Lembu, berlokasi di bawah punggung Lembu.

Kecil menantang

Jalur terus menanjak hingga kami menemukan sebuah selter untuk beristirahat. Ternyata kami sudah sampai di Punggung 1. Kami pun memutuskan ‘parkir’ sejenak sambil melepas dahaga.

“Kecil-kecil cabai rawit nih!” cetus salah satu rekan perjalanan sambil terengah mengomentari kontur gunung ini.

Seusai mengatur napas, kami melanjutkan perjalanan. Tidak jauh dari selter, terdapat sebuah batu menyerupai nisan dan dipagari. Syahdan, menurut legenda lokal, itu merupakan jejak tapak tilas Prabu Siliwangi.

Jalur selanjutnya sempat menurun sebelum kemudian menanjak lagi ke Punggung Lembu 2. Sekilas imajinasi saya membayangkan sekarang sedang benar-benar berada di punggung seekor hewan lembu sungguhan dengan ukuran raksasa.

Jalur sepanjang Punggung Lembu 2 sangat sempit. Harus ekstra hati-hati karena di sisi kanan dan kiri jalur terdapat jurang yang sangat curam. Untungnya, di beberapa titik sudah dipasang webbing sebagai pengaman.

DSC_0469 copy
Gunung Empat dan Waduk Jatiluhur.
DSC_0457
Gunung Parang tampak di kejauhan.

Lampu keramba

Kelap-kelip barisan cahaya di bawah mulai tampak. Bak kota kecil di antara pegunungan, mereka menghias malam. Kami pun bertanya-tanya asal cahaya tersebut karena tersusun dalam baris yang terbilang rapi. Ternyata, lampu-lampu itu berasal dari keramba peternakan ikan air tawar di Waduk Jatiluhur.

Tidak terasa, setelah trekking sekitar 1 jam 30 menit, kami sampai di punggung terakhir Gunung Lembu, yaitu Punggung 3. Trek ‘naik-turun’ sangat menguras tenaga. Kami pun kembali beristirahat untuk mengatur ritme napas.

Jalur menuju tempat perkemahan di dekat Batu Lembu relatif datar dan menurun. Namun, kali ini kami tidak berniat mendirikan tenda. Maka, kami langsung lanjut menuruni punggung gunung menuju Batu Lembu.

Sebuah bongkahan batu sangat besar menghadang kami setelah 15 menit menuruni punggung Lembu 3. Kami pun sempat bingung, mengira salah jalur dan terjebak di jalan buntu.

Sebuah papan bertuliskan Batu Lembu samar-samar tersorot dari cahaya headlamp yang saya gunakan. Ternyata kami sudah sampai di Batu Lembu. Di sisi kanan batu besar tersebut ada jalur untuk naik ke atas batu.

Batu Lembu relatif aman untuk dinaiki. Selain pijakan batu yang kukuh dan tidak goyang, bagian atas batu berbentuk datar seperti beton dengan luas sekitar 50-an meter. Namun, pendaki tetap mesti berhati-hati karena di ujung batu berketinggian sekitar 700 mdpl itu tidak ada pengaman.

Pemandangan pendar cahaya keramba dari atas batu sangat indah. Rupanya, kami pun tidak sendirian. Sudah ada kelompok pendaki lain menikmati suasana di Batu Lembu.

Berbagai kegiatan kami lakukan untuk menunggu matahari terbit. Ada yang meluruskan kaki-kakinya, ada yang berdoa menenangkan diri, ada yang memasak air untuk menyeduh kopi dan teh, ada juga yang langsung tertidur lelap. Saya memilih untuk menyalurkan hobi merekam panorama alam.

Sekitar pukul 03.00, kami membuka bekal untuk santap sahur. Kami sengaja membawa makanan matang dari bawah agar beban yang dibawa saat turun gunung lebih ringan.

Di Batu Lembu pun kami tidak mendirikan tenda. Selain tidak diperbolehkan mendirikan tenda di sekitar Batu Lembu, suhu tidak terlalu dingin. Hanya jaket tebal yang kami gunakan untuk melawan hembusan angin malam. Namun, ternyata masih ada pendaki yang bandel mendirikan tenda di sekitar Batu Lembu.

DSC_0130 copy
Malam hari.
DSC_0136
Fajar menyingsing.
DSC_0321
Matahari terbit.

Fajar terhadang kabut

Tidak terasa, jarum jam menunjukkan pukul 06.30. Namun, tanda-tanda warna jingga di ufuk timur belum juga ada. Pagi itu kabut cukup tebal sehingga menghalangi pancaran sang surya.

Golden sunrise yang dinantikan ternyata tidak muncul. Memang, momen menyambut indahnya matahari pagi di gunung perlu faktor hoki juga.

Meski begitu, panorama pagi itu pun tetap indah. Deretan keramba dengan lampu-lampu yang dimatikan mulai terlihat. Demikian pula sosok Gunung Seulasih, Parang, dan Bongkok.

Kendati keinginan melihat golden sunrise tidak terwujud, kami bersyukur karena tetap ada keberuntungan bersama kami. Tidak satu pun dari kami membawa tenda, tapi cuaca sangat bersahabat sepanjang malam, tanpa hujan atau badai.

Perjalanan turun gunung hingga kemudian sampai rumah masing-masing pun berlangsung lancar. Padahal, beberapa rekan baru pertama kali mendaki gunung. Sungguh nikmat alam yang tak ternilai….

DSCF4415 copy
Yosemite ala Purwarkarta, Gurung Parang, difoto dari Gunung Lembu.
Travelista Juli 2015.indd
Tulisan ini juga dimuat pada rubrik Travelista Media Indonesia edisi Kamis, 30 Juli 2015. Layout oleh Novin Herdian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s